Karena Tiap Anak Berbeda

ADA STUDI MENARIK.Dari 120 ribu orang yang dianggap sebagai tokoh-tokoh berpengaruh,sebagian besar ternyata bukan anak pertama.Tetapi mereka juga bukan anak terakhir.

Hhmmmmmmmmmmmmmmmmmmm……

Anak pertama bukannya tidak bisa berhasil,tetapi umumnya kurang memiliki kemampuan inovasi.         (waduuh😦 ).Tetapi bukan juga anak terakhir,Anak bungsu kerapkali memiliki ketergantungan yang cukup besar pada orang lain,cenderung manja,tidak mandiri,dan kurang mampu menentukan sikap dengan cepat dan mantap.Kecuali anak bungsu yang mendapat pendidikan secara tepat dari orangtua yang memiliki kepekaan,kewaspadaan terhadap perkembangan serta bekal ilmu yang memadai.

Berarti anak kedua donk yang berhasil.Anda termasuk anak nomor berapa?

Tetapi banyak juga anak tunggal yang gemilang menjadi pemimpin,contohnya yang terdekat adalah Rasullah SAW,Imam Syafi’i seorang ulama besar peletak dasar-dasar ushul-fiqh dan masih banyak nama  lagi.Satu hal bahwa anak tunggal memiliki peluang sangat besar untuk gagal dan terpuruk atau sukses dan menjadi sumber pengaruh.Wallahu a’lam bishawab.

Anak tunggal yang tidak mandiri dan cenderung egois umumnya berasal dari orang tua yang tidak memiliki harapan untuk hadirnya anak berikutnya,baik alasan medis maupun psikis.Ini sama halnya dengan anak yang diperlakukan sebagai bungsu karena besarnya keinginan orangtua untuk tidak punya anak lagi.Padahal sesudah itu Allah ‘Azza wa Jalla masih mempercayakan kepadanya keturunan yang harus dibina.

Itulah sebabnya,kita perlu belajar agar senantiasa membuka diri terhadap datangnya amanah dari Allah berupa keturunan.Seperti kata Umar bin Khattab RA,kita tidak tahu mana diantara anak-anak kita yang paling besar barakahnya.

Lain anak tunggal,lain pula anak-anak yang mempunyai saudara sekandung.Anak pertama tak jarang dipaksa untuk lebih dewasa daripada usia sebenarnya,bahkan ketika masih balita.Sedangkan anak kedua kerap kita bela,atau sebaliknya sering kita marahi karena urutan kelahiran kerap kali menjadikannya”sebagai pemberontak“. Sementara anak ketiga dan berikutnya lebih dimaklumi sehingga cenderung menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif.bila orangtua tidak berhati-hati,bisa lebih jauh lagi:anak menjadi liar,secara fisik maupun pemikiran atau salah satunya.Na’udzubillahi min dzalik.

Allah menolong para orangtua sehingga setiap anaknya menjadi penyejuk mata didunia dan insyaAllah diakhirat.Tetapi,orangtua seperti itukah kita?atau seperti itukah orang tua kita?

Mudah mudah catatan sederhana ini dapat kita renungkan.Semoga Allah menjadikan keturunan kita semua sebagai pembuka surgsurga tertinggi dikarenakan kemuliaan iman dan amal shalih mereka.Sehingga atas keshalihannya itu,doa-doa mereka akan membubung ke Rabbul A’la dan melimpah pahalanya bagi kita.

Bukankah impian terbaik adalah waladun shalihun yad’ulah?

Begitupun seharusnya kita,jadilah keturunan yang bisa memberikan pahalanya kepada orangtua kita.Orangtua kita juga berharap doa-doa kita menjadi pembuka pintu surga bagi mereka yang telah melahirkan kita di dunia fana.

Bukankah orangtua kita juga mendambakan waladun shalihun yad’ulah juga?

dari : kolom Moh Fauzil Adhim ( dengan sedikit editan )

Satu Tanggapan

  1. Hello there! This post could not be written any better! Reading this post reminds me of my good old room mate! He always kept talking about this. I will forward this page to him. Fairly certain he will have a good read. Thank you for sharing! ebkgfdcfeece

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: