Sebab dan Akibat

Ketika Allah SWT memberi ‘Izrail as. tugas mencabut nyawa, sang Malaikat Maut itu berkata, “Ya Rabbku, Engkau telah memberiku tugas yang sangat berat. Hamba-hamba-Mu akan membenciku karenanya.”

Akan tetapi Allah berfirman kepadanya,

“Wahai ‘Izrail, Aku akan memberi hamba-Ku rasa sakit sedemikian rupa sehingga mereka mengira bahwa rasa sakit itulah, dan bukan engkau, yang bertanggung jawab atas kematian mereka. Aku akan membuat mereka lupa kepadamu.”

Memang demikianlah sesungguhnya yang terjadi. Kita selalu saja mengatakan,

“Ia mati karena serangan jantung …. ”
“Ia mati karena kanker ….. ”
“Ia mati karena ini dan itu …… ”

Sebenarnya, manusia mati karena dilahirkan. Sekiranya ia tidak pernah dilahirkan, ia pasti tidak akan pernah mati.

[sumber: The BIG SECRET, Mati dan Hidup setelah mati…….. Irshad Wisdom of a Sufi Master Syaikh Mozaffer Ozak Al Jerrahi, Pustaka Hidayah 2008]

Misalnya ada seorang pembalap motor, sebut saja namanya Rossidi, beberapa musim dan seri balap ia kalah terus dan salah satu penyebabnya adalah ban motornya kurang sempurna untuknya. Lalu ia berikhtiyar mengganti ban motornya ke merk lain dan akhirnya ia menang lagi di beberapa sessi balapan.

Kenapa ia kalah terus di beberapa musim dan sesi awal musim, tentunya karena ban motornya kurang sempurna, begitu bukan ? Ah masa iya … !

Bukankah mengganti ban motornya ke merk lain hanya sebuah tindakan ikhtiyari belaka, yang dilakukan seseorang sebagai sebuah “sambutan” terhadap anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, berupa kepandaian fikiran jasadiyyah. Kalaupun kemudian ia menang balapan [… atau kalah …] maka itu terjadi karena kehendak Allah Ta’ala.

Ya ….. kita selalu terjebak kepada “fenomena”, terjebak kepada hal-hal yang “menjadi sebab-musabab” dan MELUPAKAN bahwasanya Allah Ta’ala berkehendak kepada hal-hal yang merupakan akibat dari sebuah sebab.

Manusia boleh saja punya kehendak atau keinginan, tetapi Kehendak Allah Ta’ala saja yang akan terjadi atau mewujud. Ikhtiyari manusia hanya dalam batas-batas mensyukuri kemampuan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, bukan ikhtiyari untuk pencapaian tujuan atau keinginannya.

Satu Tanggapan

  1. pancen alumni gunung pring tenan iki….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: